KAB. BANDUNG BARAT, intelmedianews.id - Siswa kelas 12 di SMKN 1 Cihampelas, BR (17), meninggal pada Selasa (30/9/2025). Sebelumnya, 121 siswa di sekolah ini mengalami gejala keracunan massal pada Rabu (24/9/2025) setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG). Saat itu, para siswa disebut mengalami mual, pusing, hingga muntah-muntah.
Namun, dari sejumlah siswa SMKN 1 Cihampelas itu, pihak sekolah meyakini BR bukan salah satu yang terdampak keracunan. Meski terdaftar sebagai penerima MBG, dia tidak tercatat sebagai siswa yang mendapat perawatan di rumah sakit atau puskesmas.
Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat Lia Nurliana Sukandar menyatakan, hasil investigasi timnya di lapangan menyimpulkan, penyebab kematian BR bukan karena MBG.
Berdasarkan laporan kronologi kejadian Nomor 400.7.7.1/X.1.1/P2P yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, BR mengonsumsi dua porsi MBG pada Rabu (24/9/2025), satu jatah miliknya dan satu lagi jatah milik temannya yang tidak mau makan menu tersebut. BR lalu pulang ke rumah dan sempat mengeluh sedikit pusing.
Masih menurut laporan yang ditandatangani Lia, pada hari yang sama, tepatnya pukul 13.00 WIB, adik BR yang berusia enam tahun menemukan korban kejang dengan mulut berbusa dan wajah sedikit bengkak.
Dalam laporan ini, Lia juga menyebutkan, keluarga pasien tidak mengetahui BR memiliki riwayat penyakit apa pun sewaktu kecil. Namun, Nanang (53), paman korban, menduga kematian BR karena sakit lambung yang diderita korban. Dia bahkan menyebut, kematian ini akibat minimnya perhatian pada korban.
Keluarga pasien menyatakan pasrah. "Kami menerima semua ini. Polisi sempat hendak mengotopsi almarhumah. Namun, kami menolaknya dan menguburkan almarhumah," ujar Nanang.
Sekalipun keluarga sudah menyatakan menerima, tetapi ahli keracunan dan Presiden Toksikologi Indonesia Tri Maharani mengatakan, penyebab kematian BR hanya bisa disimpulkan setelah ada investigasi mendalam. ”Harusnya otopsi. Keadaan ini sebenarnya bisa dideteksi lewat otopsi dan pemeriksaan laboratorium toksikologi,” kata Tri, yang juga dokter spesialis tanggap darurat.
Menurut Tri, tanpa penyelidikan mendalam, spekulasi akan terus berkembang, apalagi korban memiliki riwayat mengonsumsi MBG yang beberapa hari sebelumnya memicu keracunan massal.
Tri menambahkan, gejala keracunan pangan pangan atau foodborne disease (penyakit bawaan makanan) tidak semuanya terjadi serta-merta. ”Keracunan memiliki golden periode yang bergantung pada jenis foodborne intoxication (keracunan akibat pangan) atau foodborne infection (infeksi akibat pangan), dan tentunya berapa banyak yang masuk ke tubuh manusia,” katanya.